Uswatun Hasanah Fitria

Selasa, 28 Juli 2020

KMW

Berikut sejarah dibentuknya KMW

Berawal dari nama KJP Menjadi KMW

 







[18/6 14.30] Fitria
Ok jadi saya lagi mikir untuk merapikan *nama komunitas dan pembentukan Struktur kita*  nanti kalau ini sudah rapi, kita buat target penulisan tiap pekan.Saya jelaskan dulu untuk menentukan sebuah nama, jadi komunitas ini memang gerakan dasarnya adalah *Nulis semua hal tentang kampung Waetiong* namun sebenarnya selain nulis, kedepannya akan ada aksi/kerja nyata di lapangan di berbagai sektor. 
 
Ex: *Ekonomi* (Mau mengolah hasil alam oleh komunitas ini). 
*Sosial Budaya* Gerakan merawat atau mengarsipkan sejarah atau kebudayaan kita. Akan ada kegiatan ambil bagian dalam mendata / menjaga tempat tempat bersejarah oleh komunitas ini. Sehingga
Nama komunitas kita harus rubah, krn ini terlalu spesifik ke Nulis saja. Kemudian
Jika ada lomba-lomba apapun yang Nasional komunitas ini diusahakan ikut serta dengan membawa kelebihan bidang alam hingga budaya dr kampung Waetiong.
Lanjut nanti mlm ya, mari bertukar pikiran nanti malam, sampaikan apa apa unek kalian mengenai komunitas ini, tujuan menurut kalain. Sampaikan aja ya.





[19/6 22.09] Fitria: 
Wokeh lanjutkan ini dulu ya, Jadi Usulan nama komunitas yang baru dari saya itu 
 dari *KJP Waetiong* berubah menjadi # *Kaum Muda Waetiong*
Ciri Kaum muda Waetiong yang bergerak sama kita, Pendidikan nya dari tingkat *SMA*  Hingga *Mahasiswa Pasca kampus*
Dalam grup ini sudah fix dr syarat ini
# *Kaum muda Waetiong* bagaimana pendapat teman-teman.?
# *Komunitas* ini memang gerakan dasarnya adalah *Nulis semua hal tentang kampung Waetiong*
# *Komunitas*Ini nanti menghasilkan karya, tulisan tulisan tim dibukukan atau buat semacam majalah. Krn penulis melihat kondisi lapangan, yg tua tdk bisa membaca di sosemd nah dgn dibuatnya  *buku* maka orang tua kita bisa merasakan jg hasil tulisan kita.

# *Komunitas* ini   selain nulis, kedepannya akan ada aksi/kerja nyata di lapangan di berbagai sektor.
 Ex: *Ekonomi*
*Sosial Budaya*

# *Komunitas* ini
Aksi bidang ekonomi, jika teman-teman berlibur, kita lakukan sesuatu seperti ngolah hasil alam dan menjualnya bersama kemudian kita buat produk disini.

Itulah mimpi mimpi saya, silahkan ditambahkan 🙏🏻🙏🏻

                                        Tanggapan teman-teman👇👇👇👇👇👇👇

[19/6 22.59] Dari Afi
 👇👇
Slamt malam kae gu ase semua,,😊😘 menurut saya nama komunitas sudah pas, saya setuju dengan pendapatnya kka fit, soalnya kalau pake komunitas penulis mudah wae tiong kan selamanya kita tidak menulis terus😊 itu menurut saya kka. 

[19/6 23.06] Dari Elsi :
 👇👇
 Dari saya juga kk fit klo misalkan untuk menulis tentang keadaan kampung waetiong baik dari segi ekonomi maupun sejarah mngenai kampung waetiong.itu kita harus lihat sendiri atau apa yang terjadi di kampung tersebut,kita tidak bisa menulis klo kita tidak melihatnya secara lngsung.
Sara dari sya kk fit alangkah baiknya kami menulis jika kami pulanf kampung nanti untuk sekarang belum bisa kk fit🙏TABE😇
 
[20/6 09.54] Dari Julhaja
 
Selamat pagi teman2 Semoga aktifitas kita semua lancar,,,Teman2 maaf yoo,,,
Klu menurut kak nama grup kita tambah redaksinya" KOMUNITAS MUDA WAETIONG"
Jdi kaum nya di delete aja, Nanti kan klu komunits itu ada beberapa yg kita bhas, Jdi teman2 bisa memilih opsi mau nulis tentang apa. intinya yg menyangkut budaya, keseharian dikampung kita, ekonomi atau Punpekerjaan, Neka raboo iyooo. Sekalian klu adek2 saya yg masiih kuliah tulis aja kenapa memilih jurusan yg adek ambil. Tabe. Misalnya kenapa adek memilih jurusan pariwisata, PGSD, KIMIA,  INFORMATIKA dll,,,Neka rabo

[20/6 10.32] Dari Hasni
Saya setuju dengan  nama group " KOMUNITAS MUDA WAETIONG" @⁨Julhaja⁩ .
B mna @⁨Fitria🙏

[21/6 22.27] Dari Delci
sy pilih komonitas muda waetiong kae...
 

[19/6 23.13] Fitria🧕: 
Siip, Saya bahas ini setelah fix nama dulu ya. Lagi nunggu kesepakatan yang lain. Poin penting nya, Komunikasi bisa menghasilkan gagasan🤓 contoh : Elsi suka nulis tentang hasil alam. Fokus aja itu. lalu nulis aja, usia tanaman hingga buah- harga dipasaran berapa untuk daerah kita- sudah sejauh mana org bisa mengolah hasil alam Waetiong- coba liat di sekitar kos delci ada yg ngolah hasil alam kita dgn cara unik gak.? Kalau ada jadikan ilmu untuk diaplikasikan pas pulang. Kek gitu singkat nya.🤓🙏🏻
            
DITETAPKAN NAMA KOMUNITAS 
22 JUNI 2020

[22/6 16.08] Fitria🧕: 
Nama komunitas kita yang Fix.
# *Komunitas Muda Waetiong*

[23/6 09.03] Fitria🧕:
 Hari ini kita menentukan struktur. Saya On siang. Pagi ini masih sibuk.
Nama nama anggota grup:
1. Afi
2. Afrin
3. Elsa
4. Elsi
5. Hasni
6. UL
7. Antri
8. Delci
9. Jul
10. Fitria

Mau menentukan struktur kita.
Ketua: 1
Sekertaris: 1

Tim Nulis: 6
Tentang:
-Ekonomi
-Pendidikan
-Lingkungan
-Sosial-Budaya

Tim Humas:2
-Edit Tulisan
-Sbg Admin FB
[23/6 09.05] Fitria🧕: 
Ayo yang on, tentukan sendiri ya mau ambil *amanah di bagian mana* .? Yang bersedia jadi *Humas* sekaligus yang pegang akun FACEBOOK kedepannya. Jujur saya on hanya bulan Juni ini saja mungkin🙏🏻  Atau kalau ada yang mau kasi masukan, tambahan bidang seperti apa untuk Komunitas kita. Ok.?🙏🏻

[23/6 09.07] Fitria🧕: Semangat yg sedang UAS @⁨Afi Waetiong⁩ @⁨Delci Waetiong⁩ @⁨Hasni Waetiong⁩ @⁨Elsi Waetiong⁩ semoga lancar semuanya Aamiin🙏🏻

               Tanggapan teman-teman
[23/6 09.37] Julhaja: 
Kk pilih nulis tentang
Pendidikan, lingkungan sama sosial budaya, Yg mau ikut dengan saya silahkan angkat tangan,Kita Sama2 belajar menulis redaksi yg benar, Agar pengembengan literasi kita bagus

[23/6 09.45] Julhaja: God Morning everybody,, Mengenai pilih ketua, sek, Dan tim menulis,,,Kak ada usulan niih,,,ngga apa2ea nanti dikomen,,,
Ketua: Fitri
Sekertaris: Delci
Tim Nulis
-ekonomi: Afi, Elsa
- Pendidikan: jul, Elsi, Afi
-lingkungan: Jul, fitri, Ul
-Sosial-budaya: Afrin, Hasni,
Tim Humas:
- Edit Tulisan: Fitri, Jul
- Admin Fb: Fitri,,,

Silahkan Di cek and Ricek,,
Skedar masukan yoo

[23/6 10.10] Fitria🧕: 
Baik ka. Semua berhak memilih ya🙏🏻 ini masukkan ka Jul. Terimakasih🙏🏻

[23/6 11.25] Ka AFRIN: Assalamu'alaikum, dan selamat siang semuanya,, mohon maaf baru respon soalnya baru libur, terkait penetapan struktur saya serahkan ke kalian aja saya setuju aja mau di tempatkan di manapun.

[23/6 11.28] Ka AFRIN: Untuk masuk dari saya yang sebagian ketua biar adik Fitri aja. Sedangkan bagian penulis biar mereka pilih sendiri di bagian apa yang di sukai karena kalo kita yang tentukan mungkin ada yang terima,

[23/6 15.52] Aa UL Baru: Untuk logo komunitas


[23/6 16.07] Fitria🧕: Iya, semua anak muda Waetiong akan kita buatkan grup baru tapi untuk *Struktur Inti KMW* Cukup kita saja. Nah yang mau ikut nulis nanti kita sebut mereka *sbg Volunteer*

[23/6 16.07] Fitria🧕: Kecuali kalau mau serius, akan dimasukkan ke grup inti. Coba tanya ke dia nya Elsi.
[23/6 16.09] Elsi Waetiong: Oohhh iya sdh kk
Kk saja yg tanya sja
[23/6 16.12] Fitria🧕: Oke. Sengaja'sedikit yang pengurus inti sebenarnya inu, takutnya kah yg banyak tp nanti gak mau komitmen sama sama kedepannya. Benar kata Elsi bahwa semua anak muda waetiong berhak mengirimkan karya.
[23/6 16.16] Ka AFRIN: Tapi kalo ada dari teman2 yang lain silahkan keluarkan ide kreatifnya
[23/6 16.19] Delci Waetiong: mat core semuax kalau utk logox sy stujuh.....
kalau dari sy sii bagaimana kalau ditengah logox kasih gambar atau ciri khas dari kampung wae tiong
[23/6 16.21] Elsi Waetiong: Selamat sore kk,kebetulan kemarin sya diskusi dengan delci kami ada usulan mengenal komunitas wae tiong kk.jadi disini kami mau berpendapat bahwa komunitas kita ini bisa tidak buat Kuliner pas di Kampung dan kita bisa jual siapa tau ada yg minat dengan makanan yg kita buat.tapi makanan itu kita buat bukan makanan yang sering mereka Makan di Kampung.coba kita cari makanan khas luar daerah.
Sekedar usulan,Terimakasih😊
[23/6 16.22] Fitria🧕: Nah benar banget, itu yg saya pikirkan dr kmrn. Tapi setelah tanya tanya ke orang tua, Ex: bapa si yg saya tanyakan dan beliau bilang, saya hanya tahu kalau tempat kita ciri khasnya ada *Benteng* di kebun .... Lupa kebun siapa. Nah krn benteng itulah makanya dusun kita disebut sbg *Dusun Benteng* tp saya blom kunjungi tempat itu untuk ambil gambar. Coba tanya ke orang tua teman-teman jg ya, siapa tahu ada ciri khas yg lain. Ok. Ini ide bagus
[23/6 16.24] Fitria🧕: Nah ini *tujuan utama wanita tangguh* knp tidak, kita memiliki visi memajukan ekonomi Masyarakat Waetiong. Dgn cara cara spt ini kedepannya.
[23/6 16.24] Ka AFRIN: Coba di cari tau dek biar bisa di angkat menjadi isu kayanya menari itu
[23/6 16.25] Fitria🧕: Benar nana, akan dimuat dlm tulisan selanjutnya.🤝
[23/6 16.26] Elsi Waetiong: Iyaa kk.
Kita jangan lihat seberapa keuntungannya tapi bagaimana cara kita bekerjasama dalam didlm komunitas wae tiong.
[23/6 16.26] Ka AFRIN: Iyah inuk biar bisa di kenal banyak orang
[23/6 16.26] Fitria🧕: Dgn melihat banyak hal menarik di tempat kalian kuliah akan menjadi modal untuk kita berkarya fi kampung sendiri. Selamat Explore diluar sana ya🤝🇲🇨
[23/6 16.29] Fitria🧕: Coba delci tanya ke bapaknya jg ya, saya belum ada waktu untuk diskusi dengan beliau. Maklum beliau sibuk🤓🤝
[23/6 16.31] Ka AFRIN: Lebih jelasnya tanyakan ke org2 tua mengenai sejarah kampung waetiong mulai dari nama sampai soal adatnya
[23/6 16.32] Fitria🧕: Benar. Dalam berkomunitas niat kita hanya untuk kemajuan bersama. Jika ada Untung itu dianggap bonus
[23/6 16.40] Delci Waetiong: kalau yg ini  sy stujuh kae
karena org tua lebih tau...
[23/6 16.51] Fitria🧕: Iya, saya pribadi lagi dalam misi mendata itu. Nanti liat postingan *Dibalik Nama Waetiong* di Facebook ya. Itu hasil wawancara dengan orang tua. Kalau ada tambahan dr yang teman-teman dapatkan, silahkan. Agar cerita dapat disatukan.🇲🇨
[24/6 12.55] Julhaja: Teman2 sdah pada baca semua,,,So,  tdak masalah klu tulisan teman2 masih belum memenuhi kriteria penulisan yg baik benar, yg penting sdah mencoba

Never give up💪💪💪


[27/6 19.58] Fitria🧕: Teman-teman mungkin untuk kedepannya saya jarang on ya. Saya kehabisan *data internet* dan saya amankah yang *pegang akun* kedepannya ka Jul ya.
[27/6 19.58] Fitria🧕: Untuk yang ini terimakasih ka Jul, rata rata teman-teman ikut yang ini.
[27/6 20.01] Fitria🧕: Tanggal 22 Juni Pembentukan Nama Komunitas kita yang baru.


# *Komunitas Muda Waetiong*

Tanggal 223-24 Juni Pembentukan *Struktur  Komunitas* kita yang baru Beserta Logo.
[27/6 20.14] Fitria🧕: Struktur Inti Komunitas Muda Waetiong

Ketua: Fitri
Sekertaris: Delci

Tim Nulis
- Ekonomi: Afi, Elsa
- Pendidikan: jul, Elsi, Afi
-lingkungan: Jul, fitri, Ul
-Sosial-budaya: Afrin, Hasni, Fitria

Tim Humas:
- Edit Tulisan: Fitri, Jul
- Admin Fb: UL, Jul.






[26/7 10.09] Fitria🧕: Bagaimana pendapat teman-teman jika saya mau Komunitas ini Mendukung produksi kemasan dalam negeri yang pro lingkungan, pro kearifan
lokal, dan bebas plastik sekali pakai.? 🙏🙏 Mohon sarannya
[26/7 11.50] Ka AFRIN: Saya sih setuju sebab penggunaan plastik bisa mencemari lingkungan
[26/7 12.08] Fitria🧕: Ite setuju nana, awal kempanye minimalisir pake plastik oleh komunitas kita ini, dimulai dgn sablon totebag gini. Cantumkan nama komunitas di tasnya
[26/7 18.08] Ka AFRIN: Mantap inuk idenya soalnya tempat saya tinggal kalo di toko2 sudah tidak di sediakan plastik
[28/7 10.11] Julhaja: Maaf teman2 baru all,,,
Mengenai ide yg diusulkan oleh ketum kita kk Fitri, saya setuju, soalnya itu kreatifitas baruu,,tpi yg menjadi persoalnnya adalah bahannya, trus yg bisa membuat kreatifitas, yg ahli mksdnya kakak,,
Spaya klu buat kreatifitas tersebut tdak ada kndala, klaupun ada kendala tpi bisa kita atasi

Tabeee
Neka rabo
[29/7 08.27] Fitria🧕: Untuk ngejawab pertanyaan dite @⁨Julhaja⁩  ini pricelist harga totebag blm termasuk pesan sendiri nama totebag dan ongkir. Lihat sama sama dulu yuk harga dengan ukuran totebag nya. Siapa tau ada pendapat ukuran brp nya
[29/7 08.51] Julhaja: Gmana klu untk prempuan pesan Totebag yg sesuai,,,trus klu untuk laki2 tas serut atau ransel,,,jdi gmana sohib2 semua?



Selasa, 23 Juni 2020

Foto foto kader

AKSI GALANG DANA
NOBAR FILM INSPIRASI
Bedah Buku oleh kaderisasi 

DM 1 SPP
TDO / Training dasar organisasi
 
DM 1 SPP

Minggu, 31 Mei 2020

Bedah buku Netizenokrasi




Berikut materi yang saya ikuti di grup 
Saat ulang tahun penerbit Pustaka Saga
Sengaja simpan di blog supaya materi gak hilang.

Selamat membaca. 

INI Foto pemateri ya sedangkan pamflet ini gak sesuai sama judul maaf ya gengs. saya kehilangan pamflet aslinya



 Saya mengucapkan terma kasih atas kehadiran teman2 di forum ini, semoga dapat memberi insight bagi dunia gerakan milenials. Kita ubah diskusinya menjadi tertulis saja, krn td ada interupsi dr beberapa peserta agar menggunakan teks saja. ☕

Pertama, saya akan mengulas sedikit perihal buku ini secara ringkas.
 Netizenokrasi terdiri dari 3 bab, di mana setiap bab terdapat 12 esai yang, setiap esai hanya membutuhkan 3 menit untk dibaca.

 Pesatnya kemajuan di bidang sosial dan ekonomi, telah menciptakan pola dan struktur baru bagi masyarakat menengah Indonesia.  Masyarakat kelas menengah ialah mereka yang aman secara material, otonom secara intelektual, dan independen secara sosial.
Kemajuan ini pada akhirnya mendorong proses demokratisasi dan kebebasan dalam menentukan pilihan-pilihan hidup. Baik kebebasan dalam konteks konsumsi, maupun kebebasan dalam menentukan pilihan politik, beserta spektrum yang mengiringinya.

Ini awal mula munculnya fenomena Netizenokrasi. ☕
Ciri utama dari masyarakat kelas menengah ini terdiri dari tiga dimensi, yaitu sejahtera, terdidik, dan terkoneksi. Ketiga dimensi ini menjadi fondasi terciptanya masyarakat yang kritis (critical society) dan masyarakat yang partisipatif.

Milenials, juga masuk ke dalam kategori Kelas mMnengah ini.
Milenials lalu menjelma menjadi komponen dominan dalam struktur demografi kita. Sehingga memiliki kekuatan tersendiri dalam mempengaruhi arah pasar dan politik domestik. Ini bagian menariknya, knp akhirnya milenials banyak dikaji dan dibahas di berbagai forum. Termasuk banyak ditulis di berbagai buku.

 Secara teoritis, Istilah Netizenokrasi dikonstruksi dari 3 variabel pokok, yaitu:
1. Media Sosial (tempat)
2. Netizen (pelakunya, salah satunya milenials)
3. Demokrasi (sistemnya)

Sehingga terbentuklah Netizenokrasi.
Netizenokrasi sendiri merupakan istilah yg saya "buat" sbg antitesis terhadap istilah lainya, seperti digital activism, digital society, dll.

Menurut saya, perlu ada istilah dan teori baru untuk menyebut fenomena politik di era digital ini, akhirnya tercetuslah Netizenokrasi. ☕

Berhubung buku ini lebih fokus mengkaji relevansi dan shifting milenials di era Netizenokrasi, ada baiknya kita lihat milenials dari ciri yg paling subtil.
Ciri dan karakter *pertama*, yaitu Generasi milenial adalah generasi paling kolektif sepanjang masa.

Karakter kolektif ini tidak hanya didorong kecenderungan psikologis, tetapi juga difasilitasi oleh kehadiran media sosial yang membantu para milenial untuk mengaktualisasikan dorongan kolektif mereka.

Tidaklah heran apabila Indonesia menjadi satu-satunya negara dimana penetrasi media sosial semakin tinggi namun alih-alih membuat para milenial semakin individualis malah membuat mereka semakin kolektif. Wujudnya dapat ditemukan dalam berbagai komunitas yang kini bermunculan.

Organisasi politik dan gerakan dapat mengambil semangat kolektifisme ini dalam melakukan rekrutmen anggota dan pengkaryaan kader.

Kolektifisme berakar dari semangat gotong royong. ☕

 *Kedua*
Lihai mengkustomisasi budaya dan merespons peristiwa

Generasi milenial di Indonesia tidak secara bulat-bulat menelan tren 'overseas' yang masuk ke dalam negeri, akan tetapi mereka terjemahkan dalam warna serta bentuk yang sesuai dengan nilai-nilai kelokalan. Kita bisa lihat bagaimana tren popular mengejawantah akhir-akhir ini.

Dalam hal ini, dunia aktivisme perlu memberikan sudut pandang baru dalam melihat perkembangan sosial-politik. Tak hanya didorong oleh viralisme, tapi juga hadir dengan titik kritik yang berbeda. Gerakan perlu mengkustomisasi informasi lalu men-delivery dengan informasi yg baru.

Ini bagian dari contingency management skills yang harus dipupuk dalam kehidupan sosial kita.

Skill mengkustomisasi adalah satu hal yg unik dr kita semua.

Jadi, kalau kita masih terjebak pada arus viralisme, kita belum milenials. 😄

Ironisnya, banyak aktivitas gerakan dan politik didorong oleh afus viralisme. Seolah-olah, kalau gak viral, gak gerak. Hehe

 *Ketiga*

Sadar akan butuhnya komunitas

Generasi hari ini bergeliat melalui komunitas untuk menciptakan berbagai perubahan sosial. Atau, dalam level yang lain mereka menjadikan komunitas sbg sarana aktualisasi.

Di komunitas mereka punya penonton, pembaca, dan afirmasi.

Dalam hal berkomunitas, milenial mulai menyadari bahwa karya mereka akan lebih mudah tersalurkan apabila mereka berkomunitas dan bekerja secara kolektif dgn sesama mereka. Memiliki ikatan yg sama dalam hal pemikiran atau hobi.

Mereka tidak secara pasif menunggu hadirnya perubahan dari struktur formal, akan tetapi bergerilya membuka ruang kreasi bagi pemuda lain di sekitar mereka. Komunitas tumbuh kembang dengan pesat dalam ranah hobby, atau sesuatu yang tidak membuat mereka harus merasa berjuang ketika menjalankannya.

Banyaknya komunitas yang muncul menjadi fenomena tersendiri di dunia gerakan anak muda dan mahasiswa.

 *empat*

Selanjutnya, Native Demokrasi

Generasi hari ini menjadi generasi yang tumbuh besar di era transisi politik, yaitu reformasi 1998.

Oleh karena itu, mereka memiliki karakter yang sangat terbuka terhadap bahkan bereksperimen dengan berbagai paham ideologis.

Generasi ini sangat kritis serta tidak _take it for granted_ dalam menerima sebuah paradigma tertentu.

Politik milenial Indonesia sebetulnya ditandai sejak era reformasi.

 *Kelima*

Pembaca sejarah yang baik

Generasi ini adalah generasi yang retrospektif.

Mereka tak hanya melihat ke saat ini atau masa depan, akan tetapi mereka juga melihat ke belakang untuk mendapatkan inspirasi. Kita bisa dapati saat ini Generasi milenials banyak menghidupkan kembali berbagai tren lama juga berinteraksi dengan para _trendsetters_ dari kalangan generasi X.

Dalam dunia gerakan, Kita adalah generasi yang membaca sejarah, dan belum tercatat dalam sejarah. Itulah knp, tindak gerak kita lebih didorong oleh romantisme sejarah. Ini wajar dan harus. Lalu kita mengkustomisasi-nya dgn perkembangan zaman.

*Enam*

Well Connected

adalah generasi yang terkoneksi. Kemana-mana pasti mencari wi-fi, bukan hanya untuk bersosial media saja akan tetapi mereka memiliki kebutuhan dasar untuk sharing dan mengetahui update informasi yang berkembang dari berbagai belahan dunia. Mereka adalah orang pertama yang mengetahui kabar berita penting di pagi hari.


pertanyaan peserta:
 Saya sudah khatam buku nya ABG, abg pernah menyebut kan di buku abg bahwa kita para milenial bisa membuat opini sendiri Krn opini sblm dtg nya media sosial selalu dikuasai oleh media2 besar seperti tv radio dan lainnya..namun hadirnya medsos menjadikan kita bisa membuat isu atau opini sendiri..yg saya perhatikan saya melihat media2 besar seperti tv hari ini berpindah juga membuat YouTube dan medsos lainnya...artinya mereka media besar juga masih bisa buat menggiring opini baru ditengah masyarakat.. bagaimana tanggapan abg???

jawaban pertama
 Terima kasih bro Malik Vanedi atas feedback-nya senang sekali mendengar bro Malik khatam baca bukunya.

Kaitannya dengan media, milenials menjadikan media sosial sebagai jalur utama mereka bersuara, sekaligus membangun opini. Penetrasi milenials di medsos terbilang tinggi dan dominan. Namun, bukan berarti mereka sama sekali tdk dipengaruhi boleh media mainstream seperti TV. Sebab, banyak juga media korporat yg aktif di media sosial dan meramaikan dunia pemberitaan.

Hanya saja, meskipun penetrasi medsosnya tinggi, milenials perlu mendapat pendidikan literasi lebih banyak, mengingat masih banyak netizen yg rawan hoax dan fakenews, serta puber informasi.

pertanyaan kedua:
 Lalu bagaimana jika seperti generasi alpha yg ketika dia lahir lgsg di pengaruhi oleh medsos, akankah lebih berbahaya lagi mereka?? soalnya seperti kita ketahui kita ini adalah representasi dari referensi yang kita miliki artinya kita sadar atau tidak pasti akan dipengaruhi oleh referensi kita..

 Generasi Neo-alpha (untk menyebut generasi baru ini) hidup dan lahir sbg warga teknologi informasi.

Saya pikir, Neo-alpha akan menjadi generasi paling melek terkoneksi dan memiliki ciri berbeda dgn generasi kita.
Misalnya, mereka lebih berfikiran terbuka, dan sepectable.

Spectable adalah potret masyarakat tontonan yg percaya diri untk tampil di hadapan publik.

Negatifnya, mungkin kepekaan sosial mereka akan lebih banyak dipicu oleh media sosial, bukan hasil interaksi di lapangan.

jawaban:
 Neo alpha adalah the truth seeker yg berada di antara titik konsevatif dan modernitas.

Di satu sisi mereka ingin menunjukkan diri sebagai generasi baru, di sisi lain mereka "diganggu" oleh romantisme sejarah generasi sebelum mereka.
Oke, saya ucapkan terimakasih yg sebesar-besarnya atas feddback dan respons positif-nya. Semoga diskuso malam ini memberi manfaat. Saya juga memohon maaf atas kekurangannya.

Apabila ada yg perlu didiskusikan lagi, bisa melalui WA ini. 😁

Saya akhiri, wassalamu'alaikum wrwb. 🙏

Senin, 25 Mei 2020

Mencari Beasiswa luar Negeri

[29/4 21.04] +62 878-8440-0992: Saya Gading, saat ini sedang studi S2 di The University of Manchester, Inggris, dg beasiswa LPDP.

Malam ini saya akan berbagi pengalaman tentang mencari beasiswa.
[29/4 21.05] +62 878-8440-0992: Saya sering mendapatkan pertanyaan tentang bagaimana mendapatkan beasiswa lanjut studi ke luar negeri, seperti:

1. “Mas, saya ingin lanjut sekolah ke luar negeri, apakah ada saran?”

2. "Mas, mana yang harus disiapkan lebih dulu? IELTS, LoA, atau beasiswa?"

3. “Mas, sebaiknya lanjut kuliah langsung atau kerja dulu?”
[29/4 21.07] +62 878-8440-0992: Pada kesempatan kali ini saya akan mengulas ketiga pertanyaan tersebut. Namun, sebelum membahas aspek teknis, saya ingin teman-teman memahami satu hal yang sangat mendasar: *bagaimana menghadapi penolakan.*
[29/4 21.07] +62 878-8440-0992: Beasiswa itu *mirip jodoh*. Yang paling pintar, paling siap, paling tajir, paling jago bahasa Inggris, paling berprestasi, belum tentu dapat lebih dulu. Ada banyak faktor yang memengaruhi sukses tidaknya aplikasi beasiswa kita. Mulai dari pilihan universitas dan negara, standar pemberi beasiswa, sampai hal-hal teknis seperti dokumen yang kita unggah. Jadi, selalu siap dengan kemungkinan ditolak.
[29/4 21.09] +62 878-8440-0992: Saya sendiri sudah berkali-kali ditolak, baik oleh pemberi beasiswa maupun universitas. Kalimat semacam *“we regret to inform you that your application was not successful”* sudah jadi santapan rutin.
[29/4 21.09] +62 878-8440-0992: Awalnya memang tidak mudah untuk menerimanya. Bagaimana mungkin aplikasi yang telah kita siapkan sebaik mungkin selama berminggu-minggu ditolak begitu saja seolah tak berguna? Sakit nggak sih? Tapi, kalau sudah ditolak, kita tidak bisa melakukan apa-apa selain bangkit dan mencoba kembali. Merasa kecewa itu wajar. Tapi, pertunjukan harus terus berlanjut. The show must go on!
[29/4 21.10] +62 878-8440-0992: Berikut adalah beberapa contoh surat penolakan yang saya terima.
[29/4 21.11] +62 878-8440-0992: Itu belum semuanya. Ada beberapa yang bahkan saya tidak diberi kabar dan sampai sekarang tidak tahu bagaimana nasibnya. Namun, satu hal yang pasti, semua penolakan itu memberi saya banyak ruang untuk memperbaiki diri. Jika saya sudah diterima pada percobaan pertama, mungkin tidak banyak pengalaman yang bisa saya bagi, dan tidak banyak pelajaran yang bisa saya ambil dari sana.
[29/4 21.11] +62 878-8440-0992: Alhamdulillah, setelah perjuangan panjang, saya berkesempatan melanjutkan studi master di The University of Manchester (UoM), Inggris, dengan beasiswa LPDP. Saya mengambil jurusan MSc Advanced Leadership for Professional Practice (Nursing).
[29/4 21.13] +62 878-8440-0992: *Tiga Pertanyaan Utama*

Ketika ada yang bertanya *“Mas, saya ingin lanjut sekolah ke luar negeri, apakah ada saran?”*, saya sejujurnya bingung karena pertanyaan tersebut sangat luas.

Teman-teman perlu menspesifikkan beberapa hal.
[29/4 21.14] +62 878-8440-0992: Untuk memulainya, ada tiga pertanyaan yang perlu dijawab terlebih dulu:

• Apakah sudah menentukan negara atau kampus atau jurusan tujuan?

• Apakah ada beasiswa yang diincar?

• Apakah sudah memiliki sertifikat bahasa Inggris baik IELTS maupun TOEFL, atau bahasa asing lainnya (jika perlu)?
[29/4 21.14] +62 878-8440-0992: Menurut saya, pertanyaan lain hanyalah turunan dari ketiganya, yang mana ketiganya pun saling berkaitan. Bagi yang sudah memiliki semuanya, bolehlah kita membahas teknis pendaftarannya. Namun, bagi yang belum, dan kebanyakan memang belum tahu harus memulai dari mana, ketiganya harus clear dulu.
[29/4 21.15] +62 878-8440-0992: Luar negeri itu luas. Ada ribuan kampus di luar sana. Tidak mungkin kita mau lanjut sekolah tapi belum tahu mau ke mana, bukan? Nah, kalau kita masih buta dengan kampus luar negeri, kita bisa membuka beberapa laman pencarian kampus yang cocok dengan jurusan kita.
[29/4 21.15] +62 878-8440-0992: Saya pribadi sering membuka laman topuniversities.com (by QS World University Ranking) yang menyediakan informasi universitas dan jurusan kampus-kampus top dunia sekaligus ranking mereka. Namun, apakah pilihan kampus harus sesuai dengan ranking, itu bisa kita diskusikan nanti. Banyak pula laman lain yang bisa teman-teman gunakan, misalnya mastersportal.com, findamasters.com, masterstudies.com, dll.
[29/4 21.15] +62 878-8440-0992: Yang jelas, semakin bagus kampus itu, semakin sulit kita masuk. Artinya, persiapan kita harus lebih matang, terutama syarat-syarat dasar seperti pengalaman dan skor bahasa Inggris.
[29/4 21.16] +62 878-8440-0992: Nah, bagi yang merasa persiapannya masih ala kadarnya, kita bisa mematok target yang lebih terjangkau. Target ini harus kita sesuaikan dengan tingkat persiapan kita, terutama bahasa Inggris, rencana berangkat, pengalaman kerja, dll.
[29/4 21.17] +62 878-8440-0992: Sekedar info, University of Manchester bagi saya empat tahun lalu adalah target yang terlalu tinggi. Namun, seiring berjalannya waktu dan matangnya persiapan, itu menjadi target yang sangat realistis.
[29/4 21.18] +62 878-8440-0992: *Duluan Mana, IELTS, LoA, atau Beasiswa?*

Setelah tanya tips dan trik, pertanyaan yang sering muncul lagi adalah *“Mas, mana yang harus disiapkan lebih dulu? IELTS, LoA, atau beasiswa?”* Sama seperti sebelumnya, jawaban dari pertanyaan ini adalah: tergantung.
[29/4 21.19] +62 878-8440-0992: Secara umum, kita bisa menyiapkan ketiganya secara simultan alias bareng-bareng. Ini adalah contoh timeline ketika saya dapat beasiswa LPDP.
[29/4 21.20] +62 878-8440-0992: Tapi, ada juga beasiswa yang tidak memerlukan nilai IELTS dan LoA DI AWAL. Contohnya Chevening dan Australia Award. Teman2 bisa langsung daftar tanpa bermodalkan sertifikat bahasa Inggris maupun offer dari kampus. Dimintanya nanti setelah diterima.
[29/4 21.20] +62 878-8440-0992: TAPIII, Chevening mensyaratkan minimum pengalaman kerja setara dengan 2 tahun, dan standar esainya cukup tinggi. Sementara Australia Award memang tidak mematok minimum IELTS, tapi kemampuan bahasa Inggris yang sudah kita capai akan tetap jadi pertimbangan (nanti akan ada pelatihan bahasa Inggris buat awardee). So inget, bisa daftar bukan berarti mudah diterima loh ya!
[29/4 21.21] +62 878-8440-0992: Nah, kalau dari awal sudah bilang, "Mas, aku pengen nyoba LPDP, boleh minta saran ini dan itu?", maka saya akan jawab, "Nilai IELTS-mu sudah berapa? Kalau belum 6,5, kejar IELTS-nya dulu."
[29/4 21.21] +62 878-8440-0992: Ini bukan saya sok-sokan tidak mau bagi ilmu, tapi untuk LPDP syarat minimum IELTS-nya adalah 6,5. Kalau nekat mendaftar dengan nilai di bawah itu, bisa DIPASTIKAN bakal ditolak sejak seleksi berkas. KECUALI, kalian adalah bagian dari kelompok afirmasi yang macamnya berderet-deret itu.
[29/4 21.22] +62 878-8440-0992: Buat yang jalur reguler seperti saya, yang jumlahnya semakin minoritas, IELTS 6,5 itu syarat mutlak yang tidak bisa ditawar. Banyak juga teman-teman saya yang tidak jadi daftar LPDP karena IELTS-nya belum mencapai standar minimum LPDP. So, daripada capek-capek nyiapin syarat-syarat lain, fokus aja buat dapat IELTS 6,5.
[29/4 21.22] +62 878-8440-0992: Terus kalau IELTS-nya masih di bawah 6,5 bagaimana? Apakah bisa mendaftar beasiswa ke luar negeri?
[29/4 21.23] +62 878-8440-0992: *Jawabannya BISA!*

Tapi tentu opsi untuk ini tidak banyak. Biasanya masih di sekitaran Asia. Menurut pengalaman saya, di Taiwan masih ada beberapa kampus dan beasiswa yang menerima nilai TOEFL minimal 500. Pada tahun 2016, saya masih menganggap tes IELTS itu sangat sulit digapai. Itulah mengapa bagi saya kuliah di Eropa itu masih seperti mimpi di siang bolong. Makanya saya mencari opsi beasiswa yang dekat-dekat, salah duanya Taiwan dan Jepang (yang dua-duanya ditolak juga).
[29/4 21.23] +62 878-8440-0992: Setelah tes IELTS pertama bulan Juni 2017, saya beruntung dapat nilai 6,5 dan akhirnya bisa mendaftar LPDP, meskipun ujungnya ditolak. Nilai IELTS 6,5 ini tidak hanya bisa dipakai daftar LPDP, tapi juga membuat opsi pilihan universitas dan beasiswa semakin luas.
[29/4 21.24] +62 878-8440-0992: Rata-rata kampus Eropa mensyaratkan minimal nilai IELTS 6,5, baik dengan atau tanpa syarat minimum band. Tentu ini perlu dilihat lagi jurusan sama kampusnya ya. Ada kampus-kampus yang standarnya lebih tinggi. But, at least, mimpi di siang bolong itu mulai terlihat nyata.
[29/4 21.24] +62 878-8440-0992: Nilai overall IELTS 6,5 untuk kasus saya memang bisa dipakai mendaftar LPDP, tapi kampus mensyaratkan minimum band 6,0. Saya hanya dapat LoA conditional (Lihat slide ke-2) karena nilai writing saya 5,5. Jadilah saya masih harus berjuang untuk dapat memperbaiki nilai IELTS, tes 2x dan terakhir dapat nilai 7,0 dengan minimum band 6,5.
[29/4 21.24] +62 878-8440-0992: Mungkin ada yang merasa perjalanan ini berliku. Tapi saya tahu beberapa orang yang perjalanan mencari beasiswanya lebih berliku daripada saya. Tes IELTS bisa sampai 6-7 kali karena ada band yang tidak memenuhi, atau nilai overall kurang. Itulah mengapa, karena peluang gagal di IELTS ini besar, saya tidak hanya mengandalkan 1 beasiswa saja. Saya pun mencari beberapa peluang kampus dan beasiswa lain yang sekiranya cocok dengan nilai IELTS saya, meskipun mayoritas gagal.
[29/4 21.25] +62 878-8440-0992: *Langsung lanjut atau kerja dulu?*

Sekarang kita membahas soal kerja vs lanjut studi.

Tahun lalu saya membuat survei kecil-kecilan di Instastory. Survei membuktikan bahwa 77% dari 73 orang yang vote di story saya memilih untuk kerja dulu daripada langsung lanjut kuliah. Beberapa yang memberi alasan mengatakan kerja dulu untuk cari modal. Soalnya biaya tes IELTS, persiapan bahasa Inggris, dll. itu MAHAL sodara2!
[29/4 21.26] +62 878-8440-0992: Alasan lainnya, ada mbak2 dari PNS Kemenkeu bilang kalo gak bisa lanjut langsung soalnya ada aturan baru bisa lanjut 2 tahun setelah pendidikan terakhir. Ya, kalau abdi negara memang harus ikut aturan yaa...
[29/4 21.27] +62 878-8440-0992: Beberapa orang pernah bertanya, apakah untuk lanjut sekolah diperlukan pengalaman kerja?
[29/4 21.27] +62 878-8440-0992: Well, jawabannya sangat tergantung mau sekolah di mana. Beberapa jurusan dan beasiswa mewajibkan pengalaman kerja dengan durasi tertentu. Misal Chevening wajib harus kerja minimal 2 tahun. Lalu, mayoritas jurusan keperawatan juga mewajibkan pengalaman klinik. Kalau ambil MBA, juga wajib punya pengalaman kerja. Apalagi yang course by research, biasanya dilihat dari pengalaman penelitian. TAPIII, banyak juga jurusan yang tidak mensyaratkan itu. So, kalau memang mau ingin langsung, pastikan dulu persyaratannya.
[29/4 21.28] +62 878-8440-0992: Apakah pengalaman kerja menunjang aplikasi?
[29/4 21.28] +62 878-8440-0992: YES, definitely!

Karena mereka yang sudah bekerja biasanya lebih siap untuk menerima materi kuliah karena sudah tahu kondisi lapangan. Jadi tidak meraba-raba dari awal. Dan, yang lebih penting, pastikan pekerjaanmu linier dengan jurusan yang kamu ambil.
[29/4 21.28] +62 878-8440-0992: Saat mendaftar, biasanya kita diminta untuk menulis di esai atau personal statement apa saja TELAH, SEDANG dan AKAN kamu kerjakan, dan bagaimana kuliah/beasiswa yang kamu ambil membantu pencapaian tujuanmu itu? Esai inilah yang jadi pertimbangan baik dari kampus/beasiswa untuk menerima kamu/tidak. Kalau kamu sudah bekerja, tentu akan lebih mudah untuk menjabarkan poin-poin tersebut.
[29/4 21.29] +62 878-8440-0992: Kalau belum bekerja bagaimana? Inilah tantangan dari yang mau langsung lanjut. Tapi jangan bersedih, kamu tetap bisa diterima asalkan bisa menunjukkan kelebihanmu, misal saat kuliah pernah ikut organisasi A, mengelola project B, menulis paper C, dsb. Apa yang kita lakukan selama di kampus biasanya tetap dihitung sebagai pengalaman kok.
[29/4 21.29] +62 878-8440-0992: Saya sebenarnya dulu juga iseng-iseng nyoba lanjut sekolah sebelum bekerja. Alasan utamanya: setelah lulus bingung mau ngapain! Diakui atau tidak, banyak yang seperti itu. Kampus memang zona nyaman bagi mereka yang belum siap kembali ke realitas. Kalau udah lulus tapi belum bekerja, kok dikiranya pengangguran. Kan kesannya nggak enak gitu. Maka pilihannya adalah lanjut sekolah.
[29/4 21.29] +62 878-8440-0992: Tapi itu bukan satu-satunya alasan. Beberapa teman berpikir kalau segera S2, nanti bisa ambil PhD pada usia muda. Masuk dunia profesional dengan gelar master juga bisa memperkuat profil kita. Selain itu, kalau langsung sekolah setelah lulus biasanya masih idealis, belum terkontaminasi dunia kerja yang serba ruwet, belum ada tanggungan keluarga juga, sehingga selain studi bisa sekaligus bersenang-senang.
[29/4 21.30] +62 878-8440-0992: Meskipun banyak peluang dari langsung lanjut, saya bersyukur tidak jadi menjalaninya. Sekarang, setelah bekerja selama kurang lebih 3 tahun, saya jadi lebih mantap untuk lanjut S2. Beberapa skill yang menunjang seperti penelitian, analisis, dll. juga sudah lebih matang dan insyaAllah akan memperlancar studi. Selain itu, saat lulus nanti, saya juga gak bingung cari kerja karena ada opsi untuk kembali ke tempat kerja lama.
[29/4 21.30] +62 878-8440-0992: Kelemahan dari kerja dulu adalah terlena. Beberapa teman yang sudah asyik bekerja jadi lupa kalau dulu ingin lanjut kuliah. Belum lagi kalau sudah dapat gaji besar, posisi yang nyaman, atau keluarga kecil yang bahagia. Kalau sudah begitu, untuk memulai kembali akan sangat berat. Perlu komitmen tinggi untuk kembali ke zona perjuangan, baik waktu persiapan maupun saat menjalani studi.
[29/4 21.30] +62 878-8440-0992: Ini adalah ringkasan plus-minus lanjut sekolah langsung maupun bekerja dulu.
[29/4 21.31] +62 878-8440-0992: So, setelah mempertimbangkan uraian di atas, teman2 mau yang mana? Langsung lanjut sekolah? Kerja dulu? Atau, terpaksa kerja dulu karena belum ada beasiswa untuk lanjut sekolah? Hehe...

Semua tergantung pilihan teman2.

Log distance

[12/5 21.06] +62 857-3322-5868: baik, bismillah... mhn ijin, saya Yudha Permana Putra, dalam kesempatan ini akan sedikit berbagi tentang Long Distance Marriage (LDM).  🙏
[12/5 21.08] +62 857-3322-5868: membahas LDM adalah sesuatu yang teramat menarik, selain dari sisi 'ke tak lazim an' di era sekarang ini, juga tantangan dan stigmtisasi yang bisa dimunculkan.
[12/5 21.09] +62 857-3322-5868: Cintalah yang membuatku harus mendaki kepuncak tanggung jawab, dan karenanya semua harus seimbang.

Sekira tahun 2008 – 2009, saya membaca bukunya kang shopian Muhammad, kalau gak salah judulnya ‘manajemen cinta sang  nabi’. Juga membac a buku – buku/ tulisan lepas ttng karakter tangguh sebuah keluarga, termasuk di dalamnya itu adalah kekuatan seorang istri. Seperti sering kita dengar, bahwa dibalik lelaki hebat, selalu ada istri yang selalu siap dengan doa dan lelahnya seorang laki – laki ketika pulang ke rumah, ini juga yang menjelaskan kenapa ‘rumah’ adalah alasan seorang lelaki itu pulang, karena setiap laki – laki membutuhkan energy (mengisi daya) untuk kembali ‘bertarung dilapangan’ guna memenuhi harkat n matabat sebagai seoang kepala keluarga. Istri juga anak – anak kita, adalah energy yang tak habis habisnya, dalam setiap sorot matanya, selalau ada cinta, kehormatan, juga harapan akan masa depan yang baik bagi mereka semua.
[12/5 21.12] +62 857-3322-5868: Kembali tetang LDM, kalau kita tinjau tentang arti atau seperti apa orang melihat juga ‘memaknai’ LDM, tentu akan sangat beragam. Dan disini, saya mecoba menulis berbasis pengalaman juga pemahaman yang muncul seiring waktu. Bagi saya, LDM bukan-lah sebuah pilihan, melainkan tanggug jawab. Tanggung jawab atas pilihan hidup kita, artinya bukan LDM itu kita pilih kemudian ada konsekuensi – konsekuensi yang muncul, tapi LDM itu konsekuensi dari pilihan kita menjadi manusia yang merdeka dan yang bercita-cita untuk bisa memberi manfaat kepada sebanyak mungin orang.  Sedikit kembali ke bukunya kang sophian Muhammad; dalam buku tersebut beliau mengupas tentang tanggung jawab Sang Nabi dari banyak dimensi, dari Sang Nabi sebagai pemuka agama sampai sang nabi sebagai panglima perang, dari nabi sebagai suami bagi istri – istri nya juga sang nabi untuk putra-putri juga cucunya, dan juga dimensi lainnya. Disni, kita mendapati satu fakta bahwa, diluar kehidupan privat kita dengan keluarga, ada juga kehidupan public kita yang harus kita manageg. Satu contoh saja (mhn saya di luruskan bila salah) seingat saya mengaji, peristiwa peperangan (baik kecil maupun  besar, baik yang psywar sampai sdh adu laga antar jago) selepas hijrah itu lebih dari 27 kali, kalau kita rata-rata dalam periode itu, berarti setiap satu tahun ada 2-3 kali kaum muslimin berperang, kalau dalam setahun ada 2-3 kali, tentu kewajiban (askari nya untuk latihan) itu pasti ada. Itu satu dimensi, belum dimensi lainnya dari kehidupan kita, kita sebagai ketua RT, kita sebagai menantu dari mertua kita, kita sebagai cucu dari eyang kita, bisnis kita, juga dimensi – dimensi lainnya.
[12/5 21.14] +62 857-3322-5868: Kalau menjadi manusia merdeka dan yang bercita – cita untuk bisa memberi manfaat itu akan melahirkan konsekuensi (LDM), lalu apa itu LDM dalam pandangan saya? Tentu kalau kita menerjemahkan artinya kan kira – kira ‘hubungan jarak jauh (sdh nikah)’. Apa iya harus begitu? Atau kita tidak mugkin jadi manusia merdeka dengan segudang agenda kebaikan kalau tidak LDM? Nah, disini kembali seperti awal tadi saya menyampaikan, bahwa saya memaknai LDM ini berbasi pengalaman juga pemahaman yang muncul seiring waktu. LDM disini tidak selalu harus lama juga jauh jaraknya (meski yang lama juga jauh sudah barang tentu LDM). Saya sendiri, sebetulnya tidak terlalu jauh jarak dengan istri juga anak – anak, dulu Surabaya – bojonegoro, sekarang semarang – bojonegoro.  Tiap pekan selalu pulang, mungkin yang disini juga malah ada yang lebih lama juga lbih jauh jaraknya dari pada saya. Dan yang utama, LDM adalah tentang tanggung jawab moril, social juga spiritual kita. Artinya, tanpa itu, tidak ada alasan bagi kita untuk memilih LDM. Saya sendiri misalnya, kenapa tidak membawa anak istri ke semarang? Ya karena saya punya ruang publik (dimensi social) yang cukup besar di desa, baik dengan petani, tokoh pemuda sampai tetua – tetua kampung. Lha apa kalau sepekan sekali PP itu juga bisa optimal? Saya kira disini justru seni nya, tentang bagaimana kita megatur waktu, prioritas juga membuat kita tidak bingung karena ‘nganggur’. Pernah seorang ustad menasehati saya; berikan beban itu kepda orang ‘sibuk’, niscaya dia teruji dan akan memberikan dampak, jangan kepada pengangguran (kecuali ini sebagai pelatihan n bukan tugas berat) nanti malah gak jalan.
[12/5 21.15] +62 857-3322-5868: Lalu, apa bisa tetap menjadi manusia merdeka bagi kita yang memilih tidak LDM? Tentu bisa, sepanjang mau terus terlibat dengan kepentingan publik, intinya bahwa kita tidak sedang memilih hidup sendiri (abai kepada kewajiban moril, social juga spiritual kita) karena ketika kita memiih dan terlibat dalam tanggung jawab social, maka sudah barang tentu ada ‘jeda waktu’ kita dengan keluarga. Dan ini baik untuk menghadirka rasa rindu itu sediri.
[12/5 21.16] +62 857-3322-5868: LDM dalam praktiknya memang tidak mudah, apalagi untk sebuah awalan juga jarak yang terlampau jauh, jelas ini membutuhkan waktu adaptasi yang cukup. Sepanjang pengalaman saya, saya selalu memulai untuk memberikan satu nilai edukasi terlebih dulu kepada keluarga (anak juga istri) bahwa apa yang sedang kita lakukan itu dalam rangka tanggung jawab moril, social juga spiritual tad, sehingga jarak dan waktu adalah sesuatu yang pasti bisa kita lewati bersama, apalagi sekarang kita dimudahkan oleh teknologi. Yang kedua, setiap kita pulang, ketemu dengan anak dan istri, kita harus memastikan bahwa kita akan memberikan waktu yang terbaik buat mereka semua, perhatian, buah tagan dan ucapan – ucapan yang mereka rindukan. Saya bahkan sudah pada satu kesimpulan, “karena jarak itu menciptakan rasa rindu, kadang – kadang kita perlu untuk tidak bertemu dalam 2-3 hari”. Dan yang ketiga, saya melihat LDM ini memang akan baik kalau kita tidak melewatiya di atas usia 45 tahun dan kondisi istri yang bekerja.
[12/5 21.19] +62 857-3322-5868: Baik mas @⁨Diskusi Pustaka Saga⁩ mkn sesi 1 ini dulu, sambil kita kunyah bareng2 dan kita diskusikan dua arah agar lbh asik juga temen2 bersemangat

👌🏼
[12/5 22.03] +62 857-3322-5868: dalam satu potongan sejarah di era amirul mu’minin umar bin khattab, beliau sampai merotasi pasukannya, berdasar ‘survei’ yang belaiu lakukan, termasuk mengonfimasi kepada putri beliau, seorang perempuan paling lama ditinggalkan dengan batas maksimal 5-6 bulan. Artinya apa? Sejauh kita melewati LDM, seyogyanya kita memberi hak kepada semua tanggung jawab dengan seimbang, sepeti pesan Rasulullah kepada abu darda “sesungguhnya Tuhan-mu punyak hak, juga nabi-mu, juga istri-mu, aka seimbangkanlah”
jadi, kita harus bener-benar serius bila dihadapkan dengan pilihan LDM, artinya semua harus kita piker secara matang. Saya mendapai satu fakta yang menarik juga bagus untuk terus kita kaji agar kedepan lahir solusi yang memadai dalam problem ini; tentang suami yang ditinggal istrinya kerja diluar negeri dan dampak setelah itu kepada suami, anak juga lingkungannya. Yang terjadi justru lebih banyak ‘kerusakan moral’, karena ketika ‘isu poligami’ sangat tidak populis dimasyarakat kita hari ini, sementara seorang lelaki pada posisi yang sulit karena ditinggal istrinya dalam bilangan tahun, maka pelariannya sudah barang tentu adalah ‘jajan’, dan ini yang harus kita selesaikan bersama, ini yang kemudian saya maksudkan dalam paparan pertama tadi; bahwa tidak boleh ada pilihan LDM hanya karena ekonomi.karena ketika kita memilih itu, sama hal nya kita sedang menyiapkan ‘masalah besar’ esok hari.
[12/5 22.04] +62 857-3322-5868: Sesungguhnya semua profesi juga pekerjaan adalah hal yang baik, karena semua kita lakukan dalam rangka menjaga kehormatan kita dan keluarga agar tidak sampai meminta, kecuali yang memang itu menyalahi syariat, namun dari profesi juga pekerjaan yang baik tadi, ketika kita salah dalam membangun prioritas , juga dampaknya akan tidak baik, misalnya tadi, seseorag yang memilih bekerja dengan jarak yang jauh dalam hitungan tahun, sementara keluarga di desa dan jelas ada yang tak seimbang dalam hak nya.
[12/5 22.04] +62 857-3322-5868: Nah, dari materi ini tadi, yuk kita lebih banyak sharing, karena bab ini, lebih banyak yang harus kita diskusikan karena memang terkait dengan hal teknis melewainya, bukan semata tentang teori. Apalagi LDM yang bisa berimbas kepada keretakan rumah tangga. Agar kita bisa belajar bersama disini.
[12/5 22.15] Diskusi Pustaka Saga: Baik, ada pertanyaan dari mas @⁨Jo Hat⁩

Berdasarkan pengalaman mas, boleh tau ngga cara mas buat mendidik anak-anak mas selama LDM ini?
[12/5 22.22] +62 857-3322-5868: [12/5 20.44] Mas Yudha Permana: Siap, mencoba menjawab.

Saya sejak awal, pernah bilang ke istri, bahwa Al umm madrasatul ula (ibu adlh sekolah pertama buat anak2nya) dan ini juga menegaskan akan arti tanggung jawab yg tidak main2. Meski ini juga bukan berarti kita -laki2- melepaskan tanggung jawabnya.

Saya setiap pulang, ketika mau sampai rumah, pasti kontak istri, biasanya anak2 akan menyambut di depan rumah, dan selepas sampai depan rumah, kita -sampai sekarang- kayak sinetron begitu hehe,, saya jongkok n buka tangan lebar2, dua anak saya berlarian menuju saya untuk saya peluk, dan itu sangat mereka sukai... Karena tadi, ada rasa rindu yg mereka rasakan
[12/5 20.46] Mas Yudha Permana: Pas sdh d rumah, biasanya saya menemaninya bermain, meski kadang tidka seharian full, tapi saya selalu memilih untuk di momen dan kondisi yg dia suka, misalkan kita main kuda2an atau Simba2an (anak raja singa), kita kelahi dan kita pastikan dia menang (untuk menumbuhkan rasa percaya diri n keberanian) kadang juga saya ajak main ke toko mart dng saya bekali uang secukipnya untuk belajar tanggung jawab, fokus dan sesuai apa yg awal di inginkan sblm berangkat.
[12/5 20.54] Mas Yudha Permana: Kalau saya pas di rumah, Alhamdulillah, porsi pembicaraan dng si kecil sangat banyak, mulai dari dia bercerira pas di sekolahnya (yg intinya minta di tanggapi) juga urusan dengan temen2 bermainnya... Dan sejak awal, saya sepakat dng istri bahwa pembentukan karakter harus lbh dominan, dari tanggung jawab, memberikan ucapan terimakasih, meminta maaf kalau salah dan memberi kepada temen mainnya, Alhamdulillah yg ini kita lakukan terus dan anak2 sngt terbiasa dengan itu. Insyaallah, mhn doanya agar Istiqomah.

Perihal konsep parenting, saya terus terang Ndak pernah ikut sekolah atau pelatihannya, saya ttp belajar kpd siapa saja, dan menurut saya, TDK ada rumus tunggal dlm mendidik seseorang, jd kemampuan kita dekat dengan anak, adalah kunci dlm menemukan potensi juga kecenderungannya
[12/5 22.33] Diskusi Pustaka Saga: Feedback dari mas @⁨Jo Hat⁩

Berarti memang harus dipahami dengan istri dari awal ya. Kalau boleh tau lagi dari masnya sendiri kalau menemukan suatu masalah saat berada di rumah menurut mas baiknya saat itu juga diselesaikan ataukah tidak masalah diselesaikan nanti?
[12/5 22.36] +62 857-3322-5868: Saya lebih memilih membuka komunikasi mas, alias bertanya kalau ada yg gak sreg. Saya orang yg sangat yakin, bahwa setengah dr masalah itu selesai dng komunikasi, setengahnya lagi bersama mencari jalan keluar. Pasti ada dlm hidup kita yg TDK selalu cocok, dan itu saya melihatnya manusiawi, tapi pas tidak cocok, kita duduk berbicara, itu akan jauh lbh baik
[12/5 22.38] Diskusi Pustaka Saga: Baik, selanjutnya Monggo closing statement nya mas 😃🙏
[12/5 22.49] +62 857-3322-5868: Khair, yg pertama terimakasih mas @⁨Diskusi Pustaka Saga⁩ sdh di undang sharing, meski blm layak sebetulnya berbagi pengalaman juga cerita2, namun semua saya niatkan untuk bisa saling menasehati, terutama diri saya sendiri, dan semoga ada guna juga manfaat buat temen2 sekalian.


Yg kedua, LDM adlh pilihan yg sngt mungkin kita ambil bila kita memenuhi pra syarat: 1. Bahwa yang sedang kita lakukan adlh dlm rangka tanggung jawab kita secara moril, sosial n spiritual. 2. Bahwa kita LDR tidak karena faktor ekonomi juga usia diatas 45. Dan yg ke 3. Menjadi normal (hidup sebagaimana pada umumnya) adlh baik, sepanjang dia ttp memilih aktif di masyarakat.

Sungguh, kita akan terus memerlukan rindu, dan jarak(juga waktu) adalah pra syarat dari lahirnya kerinduan. 🙏

Menjaga Fokus pada life plan

[13/5 21.05]
 Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. *Salam kesatuan* untuk kita semua 🤙🏻.

_Pertama_, perkenalkan saya ARNA, alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Kesibukan saat ini di Beastudi Etos wilayah Surabaya sebagai supervisor, sekjen KAMMI Daerah Surabaya, dan beberapa kegiatan kehumasan. ☺️

_Selanjutnya_, perkenankan saya untuk sedikit sharing terkait _*"Menjaga Fokus pada Lifeplan"*_

 Pernah disuatu forum saya menekankan bahwa _merencanakan hidup (membuat lifeplan) itu bagai *membentangkan tali*, dimana ujung satu kita pegang, ujung lainnya kita kaitkan pada goal kita. Jika case terburuk lampu kota mati dan angin puting beliung terjadi, tingkat kebingungan akan terminimalisir. Karena apa? kita tetap tahu arah jalan, tinggal *FOKUS* pada sandi yang telah kita ciptakan._

_Daniel Goleman_ dalam bukunya yang berjudul _“FOCUS, The Hidden Driver of Excellence”_ menyebutkan bahwa secara sainstis fokus itu menggambarkan *sebaik apa kita mengerjakan berbagai tugas*, dan diantara fokus dan kesuksesan terdapat *“hidden most time”* yang menuntut kita untuk menyelesaikannya dengan baik. Nah, disinilah tantangan buat kita untuk mengolah waktu yang ada _seapik_ mungkin, sehingga goal yang sudah direncanakan akan benar benar tercapai. Dan disini juga kita seringkali menemui hambatan, entah dari manapun datangnya.




*Inner focus* akan mengarahkan kita pada _intuisi_, tetap berpegang teguh pada nilai yang direncanakan, *bagaimana kita mengelola pikiran, perasaan, dan emosi dengan baik.* Inner focus ini dibutuhkan dalam pengambilan keputusan. Misalnya saja pada suatu saat kita dihadapkan pada suatu kejenuhan, semua usaha telah kita lakukan, namun tak ada yang berbuah manis. Lalu kita sedikit oleng, ada sedikit bersitan niat untuk mengurungkan apa yang telah direncanakan, disinilah inner focus akan berperan, memotivasi kembali kita untuk kembali _on the track_. Contoh lain lagi terkait mengandalikan emosi, _“So, while emotions can drive our attention/focus, with active effort we can also manage emotion top down, take over the brain’s choices of what to ignore.”_

 *Other focus* akan memperluas jaringan yang kita miliki dengan orang lain dikehidupan kita, *bagamana kita bisa bersikap manusia terhadap manusia*, membangun rasa *empati*. Other focus ini dibutuhkan dalam _kerja tim_. Karena tidak bisa dipungkiri dalam mewujudkan goal, kita butuh campur tangan orang lain. Dengan memanfaatkan other focus ini kita seperti *menanam investasi* yang memiliki porsi cukup besar dalam tercapainya goal yang sudah kita rencanakan sebelumnya.
[13/5 21.18] +62 882-2625-6320: Yang terakhir *outer focus* akan mengarahkan kita dengan benar di dunia yang luas ini, *bagaimana kita bisa memandang apa yang ada disekitar kita adalah sebuah sistem*. Outer focus ini dibutuhkan dalam kita _berpikir strategis_. Disini kita dituntut untuk memandang luas bumi, menyapu ke setiap bagiannya untuk mencari kesempatan walaupun disela-sela bebatuan, serta melihat badai seakan akan tak ada kabut yang menghalangi.


 *Top down focus* membutuhkan waktu lebih untuk bersama sesuatu, menghadapi satu hal pada satu waktu dan memberikan analisis mendalam tentangnya. Sedangkan *bottom up focus* lebih pada pekerjaan multitask, scanning pekerjaan secara paralel atau bersamaan. Kedua focus ini memiliki sisi positif dan negative nya masing-masing, saling melengkapi satu sama lain, tinggal kita dituntut _smart dalam menempatkannya._


 Namun yang perlu ditekankan adalah _“Full focus gives us a potential doorway into flow. But when we choose to focus to one thing and ignore the rest, we surface a constant tension-usually invisible.”_

Seperti halnya sebuah beam yang menerima beban dari girder girder yang ada. Jika tegangan yang terkonsentrasi kepadanya terus menerus tinggi dan kekuatan awalnya sudah menurun, maka akan terjadi defleksi bahkan bisa fracture.



*1. Well focused/balance*
Menyeimbangkan ketiga jenis fokus tadi, fokus pada rencana yang sudah kita buat, tidak mengenyampingkan orang lain, serta tetap memperhatikan lingkungan sekitar kita.

*2. Membuat _moments reflection_*
Moment reflection akan mengerahkan kita pada dua hal besar yaitu mengingatkan kembali hal-hal yang pernah kita lakukan, mengevaluasi kembali, dan juga bisa jadi sarana penghibur lara hati hehe.

 Membangun _self awareness_*
Kesadaran diri merupakan essential focus yang akan mengantarkan kita menapaki jalan yang kita desain. Dengan melihat diri sendiri seperti orang lain melihat kita, serta menciptakan self control yang baik. Sadar kemampuan kita seberapa untuk bisa mencapai tujuan kita, bagian mana saja yang perlu diimprove. Sadar posisi kita sekarang masih ada dimana, kurang step apa lagi untuk mencapai goal kita.

4. Mencoba _Reading Other_*
Menciptakan empathy, fokus pada cita-cita bukan merupakan alasan untuk kita mengabaikan orang disekitar kita. Dr Reiss mengatakan, *"Emphaty actually save time in the long run”.* So, cobalah berinvestasi secara invisible ini. ☺️

Tips terakhir adalah *Smart practice*
Anda mungkin sering mendengar *"The myth of 10.000 hours”*, bahwa _“the 10.000 hours rule that this level of practice holds the secret to great success in any field”_


Pertanyaannya adalah,  _apakah Anda mempercayai mitos ini???_

Anders Ericsson mengatakan, _*“You don’t get benefit from mechanical repetition, but by adjusting your execution over and over to get closer to your goal.”*_

 *Jadi* seberapapun lama kita mencoba dan mencoba *gak ada gunanya*, apalagi setiap kalinya hanya mengulangi kesalahan yang sama. Yang benar adalah belajar dari kesalahan, melakukan *repetisi dengan beberapa perbaikan*. Memang pengalaman adalah guru yang terbaik, namun guru yang terbaik juga perlu mengajarkan teori yang dia dapat agar tidak jatuh dalam lubang yang sama.

_"Hours and hours of practice are necessary for great performance but not sufficient. How expert in any domain pay attention while practicing make a crucial difference.”_

🔜 Harus ada perbaikan, harus ada perubahan, harus ada perbedaan

Assalamu'alaikum. Izin bertanya.

Barakallah fikum, jazakumullah khairan,

Perkenalkan saya Guntur Sitania dari Ambon (Alumni Beastudi Etos Ambon).

Yang ingin ditanyakan ialah mengenai pengaruh lingkungan (dari luar) terhadap fokus kita dan sebagai juga bagian bagaimana kita mengambil peran di masyarakat.

Contoh kasus di Maluku (khusus lingkungan saya) adatnya sangat tinggi sehingga susah mengingatkan atau tdk nyaman di tempat tinggal. Misalnya puasanya hanya 3 hari awal, menganggap laki-laki yang tidak suka mabuk itu banci, dan suka berkelahi dll.

Bagaimana menjaga fokus kita ditengah pengaruh sosial seperti ini?
[13/5 22.05] +62 882-2625-6320: Terimakasih atas pertanyaannya mas guntur. Dalam hemat saya jika memang yang mas guntur lakukan adalah hal yang benar, ya lanjutkan saja.

Terkait masalah adat memang masalah yang cukup pelik, hampir dialami setiap pelosok wilayah, yang membedakan hanyalah jenis dan intensitasnya saja, keberadaannya selalu bisa dipastikan.

Saran saya tetaplah lakukan yang baik menurut mas guntur dan perlakukan mereka selayaknya manusia saja, yang memang selalu ada sisi salah. Perlakukan mereka sebaik mungkin, seakan akan tidak ada hijab atau sekat diantara kalian. Hingga pada akhirnya mereka merasa "gak papa itu si guntur gak kayak kita tapi yang penting dia baik, acara kerja bakti selalu datang diawal dan pilang diakhir, ada tetangga kesusahan selalu dibantu dst"
[13/5 22.07] +62 882-2625-6320: Pernah suatu saat saya dapat cerita dari seorang ustadz. Ini terkait kebiasaan berjabat tangan di daerahnya, walaupun yang bukan mahram, jabat tangan dianggap ritual yang wajib. Akhirnya ustadz saya ini memutuskan ketika berkunjung selalu membawa sembako. Lama kelamaan saudara jauhnya ini merasa biasa dan bilang "gak papa si A gak mau jabat tangan sama aku, orangnya baik aja lo tiap kesini bawa sembako"
[13/5 22.09] +62 895-3523-95350: Hatta (UGM)
Maaf mbak mau tanya, boleh jelasin lebih detail ngga apa itu top down focus sama bottom up focus?
[13/5 22.09] +62 895-3523-95350: Zikri Saputra dari Lampung. Izin bertanya mba.
Bagaimana, pemuda menjada fokus agar tidak memiliki mental cengeng seperti mudah putus asa. ? Dan bagaiman peran pemuda desa, apakah harus punya life plan jyga, dan yang seperti apa
[13/5 22.15] +62 882-2625-6320: Baik terimakasih pertanyaannya mas hatta ☺️.

Top down focus lebih pada kita fokus pada *SATU HAL* saja. Sedangkan bottom up focus lebih pada fokus yang kita ciptakan ketika mengerjakan *MULTITASK* atau *BANYAK HAL*.

Tentu dalam penggunannya kita harus pandai. Misal dalam pekerjaan menjadi pengawas ujian maka kita perlu menggunakan bottom up focus, untuk bisa menyapu ke semua peserta didalam ruangan.
Beda lagi jika kita sedang mengerjakan soal kalkulus maka kita harus menggunakan top down focus sehingga perhitungan nya gak salah. Ibaratnya seperti itu
[13/5 22.23] +62 882-2625-6320: Terimakasih atas pertanyaannya mas zikri ☺️.

Pemuda adalah aset terbesar bangsa, tentunya bukanlah pemuda yang cengeng ataupun menye menye. Tips agar hilang mental cengeng dari saya adalah *rasakan hidup dengan sebenar benarnya*. Cobalah keluarlah rumah, berjalanlah dimuka bumi yang luas ini, maka akan ditemui berbagai permasalahan yang membuka mata kita, bahwa masih banyak yang mambutuhkan uluran tangan kita, mengingatkan kepada kita hidup ini tak semudah yang kita bayangkan ferguso... Serta coba rasakan susahnya cari uang, mencoba hidup mandiri. Cobalah segala seni hidup, maka akan kau dapatkan warna warninya

Terkait peran janganlah kita terlalu muluk muluk berpikir. Cukup membumikan peran dilingkungan RT misalnya, ikut aktif karang taruna, pengajian dst. Dan life plan sudah sepatutnyalah dimiliki oleh setiap orang

Assalamu'alaikum. Izin bertanya.

Barakallah fikum, jazakumullah khairan,

Saya mahmud dari Malang. bermaksid menanyakan.

mnrt pemahaman diri saya, saya tipe org yg mudah bosan dan menyukai tantangan. hal ini membuat pola kerja saya suka dalam tekanan dan tempo yang cepat. sedang saat ini saya sedng berjuang d skripsi yang pengambilan datanya tertunda krn corona.
alaih2  fokus menyelesaikan skripsi sebisanya. saya malah tertarik dgn berbagai course online dan volunteers online. sedang tugas utama *skripsi jd terbengkalai.
saya sadar harus segera berubah. tp ini sedikit sulit bagi saya
mohon sentilan jawabnya kak

terimakasih 🤗
[13/5 22.32] +62 882-2625-6320: MasyaaAllah terimakasih atas pertanyaannya mas mahmud ☺️.

Saya jadi teringat masa masa mengerjakan skripsi. Saran saya buat alokasi waktu sedetil mungkin ditiap harinya. Mungkin, dari 15 jam aktif ditiap harinya, mas mahmud bisa membagi 2 jam untuk skripsi, 6 jam untuk memperbanyak bekal akhirat, 3 jam untuk hobi, 4 jam untuk rumah dan keluarga.
Dan yang perlu diperhatikan adalah *dimulai saat ini juga* dan harus istiqomah (seperti Rasulullah yang harus meng qodho sholat malamnya jika missed).

Ingat ya dimulai saat ini juga. Jika akan dimulai *nanti atau besok*, akibatnya fatal, ya tetap nanti saja dan besok saja hehe.

Semangat skripsinya mas mahmud. Kalo kata dosen saya "skripsi yang baik adalah skripsi yang selesai" ☺️💪🏻💪🏻
[13/5 22.40] +62 895-3523-95350: Wah, masyaAllah. Luar biasa sekali pemaparan dan jawabannya pada malam ini.

Membangun fokus memang sulit. Tapi alangkah semuanya akan mudah jika kita tau apa saja step step terbaiknya.

Mulai hari ini yuk kita mulai rasakan hidup sebenar-benarnya. Tanyakan pada diri apa Top Down Focus kita. Apalagi pada momentum malam 10 hari terakhir Ramadhan ini. Ini adalah waktu terbaik untuk bermuhasabah 😊
[13/5 22.46] +62 882-2625-6320: Terimakasih juga kepada mbak moderator ☺️
[13/5 22.46] +62 882-2625-6320: _mengejar harapan impian_
_fokuslah kawan_
_fokus ke depan menjanjikan_
_fokus ke samping menguatkan_
_fokus ke belakang menuai pelajaran_
_menghampiri kenangan kejayaan_
_memilah bekas kepedihan_
_fokus ke atas menambah kekuatan_
_fokus ke bawah menawarkan kesadaran_

_"Bayangkan Anda adalah *seorang pemain basket* yang sedang bertanding dilapangan. Fokus ke *depan* adalah fokus pada ring lawan, bawalah bola ( *potensi* yang kamu miliki) ke arah ring lawan, masukkan, dan cetaklah skor terbaik, entah triple point dst. Fokuslah juga ke *samping*, yaitu pada lawan ( *orang disekitar, team dst*) yang senantiasa mengincar bola yang kau pegang. Fokuslah pula ke *belakang*, bisa kau ibaratkan sebagai kawan dalam satu tim ataupun pertandingan pertandingan yang pernah atau gagal kau taklukkan ( *pengalaman*). Fokuslah ke *atas*, melangitkan *doa* disetiap aktivitas kita. Serta jangan lupa fokus ke *bawah*, berhati-hatilah dengan garis lapangan,( *bumi*) jangan sampai kau keluar dari boundary area yang ditentukan.”_
[13/5 22.46] +62 882-2625-6320: Terimakasih atas waktu yang telah temen temen luangkan. Mohon maaf jika ada hal yang tidak berkenan, baik dari pemilihan kata atau yang lainnya. Sekian dari saya, semoga kita bisa berjumpa lain kesempatan.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
[13/5 22.48] +62 895-3523-95350: Terimakasih atas closing statement nya mba Arnasari. Saya tutup diskusi malam ini dengan lafadz hamdalah. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Sikap bodoh amat


Materi dari grup Diskusi Online Penerbit SAGA Indonesia

Assalamu'alaikum Warohmatullah Wabarokaatuh

semoga dalam kondisi yang sehat selalu, dimudahkan dalam segala urusan dan ibadah..

Saya Amron, hanya ingin berbagi apa yang saya dapat dari sebuah buku Terlaris versiNew York Times dan Globe and mail.

*The Subtle Art of Not Giving a F*ck*
Nah, sebagai awalan saya sampaikan informasi singkat dari buku ini yaaa....


Judul Asli : The Subtle Art of Not Giving a Fuck
“Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat”
Pendekatan yang waras untuk menjalani hidup yang baik

Penulis : Mark Manson
Cetakan XXIV : Mei 2018
246 Halaman

 Baik, mari kita mulai.... Buku ini menarik bagi saya, mengajak saya berpikir kembali tentang apa yang sebenarnya saya pikir, pedulikan dan lakukan. Bukan hanya soal apa, tapi untuk apa dan mengapa.

Mark mengajak kita melalui buku untuk berpikir lebih sederhana dalam menjalani hidup. Menurutnya, kunci kehidupan yang baik itu adalah *peduli pada hal yang sederhana, penting dan mendesak saja.*

Mark juga mengingatkan kita agar kita tidak terlalu terbuai dengan kata-kata harapan positif seperti ingin kaya, tampil cantik, tampil menarik, dll. Karena pada dasarnya hal itu hanya mempertegas kekurangan kita. Kita ingin tampil menarik ya karena kita merasa diri kita tidak menarik. Kita mengejar uang dan terus mengejar karena kita mengonfirmasi bahwa kita kekurangan uang.

Kita agak lupa dengan konsep penerimaan, bahwa uang segini cukup, fisik demikian juga baik dan sehat.

Apakah tidak boleh berpikir demikian?
Boleh, _bodo amat kan?_
Padahal dengan menerima kita menjadi lebih tenang. Hanya, apakah dengan itu kita merasa bahagia? Atau justru sebaliknya... mengejar uang, kecantikan, dll menjadikan kita mengejar sesuatu yang tidak pasti dan diluar kendali, seperti gitaris megadeath yang meskipun sudah begitu sukses masih merasa gagal karena ukuran suksesnya adalah “mengalahkan” rivalnya, metallica.

Kita selalu disuguhkan pada iklan di TV atau media bahwa kehidupan yang baik itu selalu berkaitan dengan materi; Mobil lebih mewah, rumah lebih besar, istri lebih cantik, dll. Dan kita dipaksa memperhatikan banyak hal, bahkan pada apa yang sebenarnya tidak diperlukan dan tidak perlu diambil pusing. Seberapa sering kita merasa hidup kita tak sebahagia orang yang posting di Instagram? Seolah hidupnya sempurna dan menyenangkan sedangkan hidup kita berantakan dan tak bermakna. Mulailah kita berpikir, “sepertinya enak jadi dia?” “Wah, temenku udah gini udah gitu. Aku kapan?” Kita fokus memperhatikan banyak hal, lupa memperhatikan diri sendiri. Kita lupa untuk belajar fokus dan memprioritaskan pada hal yang penting.

Kita lupa, bahwa *menginginkan pengalaman positif adalah pengalaman negatif, dan menerima pengalaman negatif adalah pengalaman yang positif*. Yang akan menuntun kita harus mampu menerima setiap pengalaman negatif kita agar kita memiliki pengalaman positif.

 *Lalu, sebenarnya apa yang dimaksud Bodo amat oleh Mark?*
 1. *Bodo amat bukan berarti acuh tak acuh, masa bodoh artinya nyaman menjadi berbeda.* Bodo amat bukan berarti tak peduli; bodo amat pada hal yang tak bermakna dan hanya peduli pada hal yang penting saja. Berkaitan dengan tujuan, yang dimaksud bersikap masa bodoh adalah terhadap kesulitan / kesengsaraan yang menghalangi tujuan. Karena kesulitan tak akan bisa dihindari.
2. Nah, untuk bisa “bodo amat” pada kesulitan, maka kita harus memiliki hal yang lebih penting dari kesulitan.
Maka, PR kita adalah memiliki sesuatu yang penting dan bermakna untuk diperhatikan. Karena jika tidak, perhatian kita akan tercurah pada hal yang kurang berarti.

*MEMAKNAI KEBAHAGIAAN DAN MASALAH*
Siapa yang hidupnya tak ada masalah? Ngga ada! Dan jangan berharap tak memiliki masalah. Karena masalah pasti datang silih berganti bahkan meningkat. Bisa jadi sederhana, terkadang rumit luar biasa. Masalah memberikan pelajaran kepada kita untuk terus tumbuh.
Kesalahan yang kita perbuat, kegagalan yang pernah kita alami, penolakan yang pernah menghampiri adalah pelajaran penting untuk tidak mengulanginya di hari esok.
Percayalah, *kebahagiaan akan hadir ketika kita berhasil _menyelesaikan_ masalah*. Ini kata kerja ya, jadi ngga bisa kita bahagia hanya dengan berdiam diri saja.

 O iya, Semua orang memiliki masalahnya masing-masing. 😃

Sayangnya sebagian menerapkan 1 diantara dua hal ini, yang membuatnya selalu dirundung masalah

a. _Penyangkalan_. Merasa tidak memiliki masalah artinya menghindar dari masalah, yang nyatanya itu hanya akan membuat “kenikmatan semu”, sebentar saja kita merasa aman dari masalah dan kita tak pernah tumbuh. Kapasitas kita terhenti disitu, dan maslaah kita levelnya segitu saja

b. _Mentalitas Korban._ Merasa inferior, “aku tak mampu menyelesaikannya” dan memilih menyalahkan orang lain atau pihak diluar dirinya yang tak bisa dikendalikan. Jelas,, orang yang seperti ini tak akan berkembang. Semoga kita tidak begitu. 


 *Berikutnya dalam buku ini dibahas bahwa kita ngga istimewa!*

Jika hari ini kita mendengar bahwa setiap kita unik dan istimewa, maka tunggu dulu. Jangan ditelan mentah-mentah. Hal itu bisa membuat kita terbuai.

Hanya membuat kita fokus pada kelebihan kita, kemudian kita "minta" diistimewakan oleh orang lain dengan segala (rasa) kelebihan kita. Atau jika kita punya masalah yang menurut kita berat, kita merasa perlu diperhatikan, berlaku sebagai “korban”.

*Padahal seharusnya kita mampu menghargai diri kita dengan mampu melihat sisi negatif kita, dan jujur akan hal itu.*

Btw, kalau semua orang istimewa sama saja tidak ada yang istimewa, kan? 

Apa iya orang yang sukses dan berpengaruh adalah mereka yang merasa diri mereka istimewa?
Siapa orang sukses menurut temen-temen?
*Jack Ma?*

Apakah beliau tumbuh dari pengakuan diri bahwa beliau istimewa?

Ngga juga kan? Justru dengan kita merasa diri kita biasa, tidak istimewa, pernah gagal dan mengakui kegagalan, kita akan terpacu menjadi orang yang luar biasa.

Merasa istimewa akan mematikan “daya juang” kita, karena kita ingin selalu diperhatikan.

 *Nilai Penderitaan*

Tadi sudah kita bahas, bahwa kebahagiaan adalah hasil perjuangan menghadapi penderitaan. Nah, pertanyaannya adalah kita menderita untuk apa? Kebahagiaan yang seperti apa? Mengapa kita menderita?
Jika jawabannya karena kita ingin mencapai suatu kesuksesan, ada pertanyaan lagi, mengapa kita menganggap itu kesuksesan? Lalu dengan standar apa kita mengukur diri kita sendiri?

Standar atau nilai ini akan menentukan cara pandang kita melihat masalah. Ada orang yang merasa bahagia hanya dengan tinggal di desa dengan anak dan istri. Sementara yang lain dengan segala fasilitas kekayaan dan ketenaran masih juga belum merasa bahagia dan masih merasa gagal.

Hal itu bebas saja. Menjadi asyik jika kita telah mengakui tujuan kita dan menghargai tujuan orang lain.

Dalam menentukan nilai kehidupan, nilai-nilai ini harus dihindari:

a. Kenikmatan
Kenikmatan adalah bentuk kepuasan yang paling dangkal, mudah diraih dan mudah hilang. Penting namun ngga terlalu esensial. Kenikmatan adalah sebab, melainkan akibat. Jika kita melakukan hal dengan benar, maka kenikmatan juga akan kita dapat. Disisi lain, kenikmatan juga bisa diraih dengan hal yangnegatif seperti narkoba, seks, dll. Jadi jangan dijadikan tujuan atau nilai pegangan

b. Kesuksesan material
Ini sangat relatif. Maka menjadi bahaya jika meletakkan ini sebagai nilai yang utama. Segala hal dihalalkan untuk mendapatkan ini.

c. Selalu Benar
Tidak mungkin. Karena pada dasarnya kita selalu berbuat salah. Hal ini akan menghalangi seseorang untuk terus belajar.

d. Tetap positif
Poinnya, akui dan jangan mengingkari emosi negatif semacam bentuk kekecewaan, dll. Nah, kalau suatu waktu emosi kita negatif maka ekspresikan dengan cara yang diterima dan selaras dengan nilai pribadi.

*Nah, sekarang beranjak pada parameter nilai yang baik*

a. Nilai itu berdasarkan pada kenyataan
b. Bersifat membangun secara sosial
c. Dapat dikendalikan; banyak orang yang memilih nilai yang tak bisa dikendalikan. Semisal popularitas. Dikenal tidaknya kita sangat bergantung pada orang lain, dan kita akan dibuat pusing oleh itu.

*Hukum hukum dalam bersikap Bodo Amat*

 *Hukum 1 : Kita selalu memilih*

Pilihlah dengan sadar. Memilih dengan kesadaran membuat kita lebih berkuasa akan hal itu. Sebaliknya, kita amat sulit menerima pilihan yang terpaksa. Ngga plong!

Kesadaran membawa kita pada tanggung-jawab atas pilihan itu, tanggung jawab atas segala hal yang kita hadapi, terlepas kondisi diluar seperti apa. Bertanggung jawab bukan berarti salah. Kadang dua hal ini disamakan, padahal beda. Kesalahan adalah bentuk lampau sedangkan Tanggung jawab adalah bentuk masa kini. Kesalahan adalah hasil dari pilihan yang diambil, sedagkan tanggung-jawab adalah hasil dari pilihan di hari ini.Setiap kita membuat pilihan baru, sebagaimana hukum perubahan, selalu akan ada penolakan diawal.

Hukum 2 : Kita keliru tentang semua hal
Maka, jangan takut keliru. Setiap langkah kita ada potensi kelirunya. Maka, bodo amat itu keliru. Keliru adalah titik untuk kita menjadi lebih baik. Saat sudah menjadi lebih baik, akan ada level “kekeliruan” berikutnya. Ketika kita menunggu sempurna, maka kita tak akan pernah melangkah.

Hukum 3 : Kegagalan adalah Jalan untuk Maju

Ukuran kegagalan itu relatif, jadi jangan pakai ukuran orang lain untuk menilai sukses atau gagalnya diri kita. Bergantung pada nilai atau ukuran setiap orang. Nilai yang baik berorientasi pada proses, misal kejujuran.

Pendapat menarik dari Mark adalah, “Kita hanya bisa benar-benar sukses kalau kita ada di tempat yang kita rela gagal. Jika kita bersedia untuk gagal, maka kita bersedia untuk sukses”.

Kita tak akan menjumpai pertumbuhan tanpa kegagalan dan tak akan gagal jika tak pernah melakukan. Maka, #mulaiajadulu menjadi jargon yang menarik untuk ditiru bukan sekada ajakan belanja atau usaha. Tapi juga pada aspek kehidupan lainnya.

Biasanya orang bergerak karena adanya motivasi, dan mendapatkan motivasi dari inspirasi emosional. Kemudian setelah kita bergerak kita mendapatkan hasil yang hasil tersebut kita ukur dengan nilai / ukuran kita, kita mendapatkan inspirasi. “Oh ini kurang, ini begini, dst” Dan hal ini menjadi siklus.

Maka, ketika kita buntu menunggu inspirasi tak kunjung hadir, segeralah beraksi.

*Hukum 4 : Pentingnya berkata tidak*

Ini penting, meskipun bagi sebagian orang terasa sulit, termasuk saya. Yang akhirnya berakibat pada hilangnya arah kita atau justru bukti kita tak punya arah. Kita ditentukan pada apa yang kita tolak, jika kita tak menolak apapun pada dasarnya kita tak punya identitas, kita tak punya tujuan dan nilai.

Kita juga perlu melihat ketika kita tidak berani berkata tidak dengan dalih ingin membantu. Coba dicek dulu, sebenarnya kita ingin membantu atau justru ingin dibantu dengan diberinya perhatian kepada kita?

*Hukum 5 : Kita semua mati*

Ini motivasi yang seharusnya kuat agar kita fokus pada hal yang penting saja. karena waktu kita terbatas. Dan kita perlu bertanya pada diri kita, "apa warisan yang kita tinggalkan setelah kita mati?"

Raga boleh mati pergi dari dunia ini tapi ada yang kita tinggalkan, lebih lama dari usia kita.

Sesi Tanya Jawab:

[15/5 22.16] 
Isma(Alumni MtsN Ketanggung Sine Ngawi, Dan Lulus tahun ini dari SMAN 1 Sine)
.
Mengenai poin 4 , Pentingnya berkata Tidak,, apalagi saat dipaparkan bahwa yang tidak bisa menolak seakan kehilangan Identitas saya merasa terpukul kak hhe,, terkadang apa yang menjadi pilihan dan tujuan saya berbenturan dgn ortu, dan ini cukup membingungkan bagi saya,, sehingga saya merasa susah untuk bilang Tidak. Misalnya dalam hal menuntut ilmu , saya punya tujuan untuk melanjutkan kuliah, tapi karena satu diantara banyak alasan dari penjelasn ortu membuat saya bimbang dgn cita cita saya ini, apakah ini juga menandakan ketidak jelasan identitas saya?. Atau saya harus mengatakan Tidak pada ortu karena hal yg saya pilih tsb bertujuan untuk masa depan saya, dan cita cita saya untuk menjadi manusia yg lebih bermanfaat di masyarakat,bangsa dan agama dengan kualitas yg saya miliki,, saya ingin belajar, Menambah pengetahuan di dunia perkuliahan dan organisasi yg ada di sana.. jika saya menuruti ortu, saya rasa apa yg saya cita -citakan pupus di tengah jalan..
Namun saat saya menolak ortu,, saya nanti dirasa anak durhaka.. Jadi bingung kak🙈

Jawaban:

Mbak Isma, sejauh ini seberapa sering komunikasi dg orang tua?
Menyampaikan tujuannya kenapa harus kuliah, ingin jadi apa, dll? Bisa jadi ada "kekhawatiran" dr orang tua yang perlu kita jawab.

Misal kalau saya dulu soal finansial. Orang tua sudah bilang tdk ada biaya buat nguliahin saya, ya sudah saya ngga fokus disitu saya fokus pada peluang beasiswa yg memungkinkan saya kuliah.

Nah, menurut saya tdk ada masalah yg tdk bisa diselesaikan selagi dikomunikasikan dg baik. Jawab kekhawatiran orang tua ya 😃👍🏼
 Menurut saya,
1. berdoa
2. Minta bantuan pada orang yg didengar oleh orang tua kita.
Pernah ngga minta bantuan guru? atau pakdhe? dll yg tahu akan keinginan kuat kita buat kuliah?
3. Berbakti pada orang tua. Jadi anak yg lebih baik 😃

[15/5 22.55]  Penanya selanjutnya :

_"Saat kita tidak berani berkata tidak dengan dalih ingin membantu, coba dicek dulu, sebenarnya kita ingin membantu atau justru ingin *dibantu dengan diberinya perhatian kepada kita?*"_

Setelah membantu memang biasanya ada rasa ikut seneng, dan bangga juga sama diri sendiri bisa ikut meringankan beban orang lain. Apalagi kalau salah satu value yang dipunya adalah bermanfaat bagi sekitar, ADA dengan membantu.Tidak menolak untuk membantu, meski kadang jadi kesulitan sendiri, tapi akhirnya memunculkan rasa senang juga. Saling menguntungkan bukan? Apakah ada yg salah dari hal ini?  Mohon pencerahannya mas, terima kasih 

Jawaban :
 Yg tidak baik adalah pada alasan kita "tidak menolak" itu, yaitu jika alasannya adalah menghindar dari masalah. tdk mau berkonfrontasi dg yg lain, yg akhirnya mentalnya tdk berkembang. tdk biasa menolak dan ditolak. Padhaal hidup ngga mesti diterima dan menerima selalu.

[15/5 23.20] Penanya:
 Terkait sikap bodo amat, kadang ketika sudah berusaha melakukannya setelah sekian lama mulai jadi kembali lagi seperti kebiasaan sebelumnya karena pengaruh lingkungan sekitar terutama yang banyak tuntutan. Terkait hal itu, dari buku tersebut kira-kira bahasan untuk menanganinya bagaimana ya?

Jawaban :
 saya teringat di salah satu bahasan yg membahas soal nilai yg terus bertumbuh.
Atau bagian kita selalu salah 😅
Bahwa bersikap bodo amat itu kan bukan berarti cuek, acuh tak acuh. Tapi peduli pada nilai-nilai yg penting. dan nilai nilai / ukuran itu boleh diubah. Ini bukan kitab suci yg ngga boleh diotak atik. Atau bisa jadi, nilainya belum terlalu dalam. 🙏🏼

Temen temen sekalian, dan para senior di grup ini. Saya belajar dari buku ini soal "continuous improvement". Kita selalu bertumbuh dengan menemui serta menyelesaikan masalah-masalah dalam mencapai nilai yg kita pegang.

Terlalu banyak hal yg akhirnya mengalihkan perhatian kita dari nilai atau tujuan yg ingin kita raih. Dan terkadang kita tidak sadar akan hal itu. Yang akhirnya mengalihkan kita dari tujuan utama kita. Waktu kita termakan untuk hal yg tidak substantif.

Tapi ya sudah, bodo amat, sudah terlewat kan?
Sekarang jadikan kesalahan itu sebagai rambu dalam alam pikiran kita bahwa kita ngga boleh menyia-nyiakan waktu lagi.

Jangan takut melangkah, jangan takut menolak dan siapkan warisan terbaik untuk hidup setelah mati 😊
[15/5 23.50] +62 813-2563-9767: Terima kasih atas pembelajaran malam hari ini,
Mohon maaf atas segala kekurangan.

Wallahu a'lam

Amron
Rumah Kepemimpinan Surabaya 😊🙏🏼